Beranda / IPTEK / Adu Strategi Kengerian Dengan Rudal Balistik. Mari Kita Bedah Bersama…

Adu Strategi Kengerian Dengan Rudal Balistik. Mari Kita Bedah Bersama…

Perang antara Israel dan Iran menjadi ajang unjuk kemampuan persenjataan peluru kendali (rudal). Kedua negara sama-sama mengandalkan rudal balistik sebagai senjata utama untuk menghadapi ancaman regional

Amerika Serikat memperkirakan Iran memiliki arsenal rudal balistik terbesar di kawasan Timur Tengah, dengan jumlah melebihi 3.000 unit. Beberapa di antaranya diklaim mampu mencapai wilayah Israel hanya dalam waktu sekitar 15 menit, sebagaimana dilaporkan Euronews.

Rudal balistik merupakan jenis senjata jarak jauh yang dirancang untuk membawa hulu ledak baik konvensional maupun nuklir melalui lintasan balistik atau melengkung. Sistem peluncurannya diawali dengan dorongan mesin roket bertenaga tinggi, yang membawa rudal menembus atmosfer, bahkan hingga ke luar angkasa. Setelah mesin utama berhenti bekerja, rudal masuk ke fase suborbital dan melanjutkan perjalanan berdasarkan jalur yang telah diprogram sebelumnya. Pada tahap akhir, rudal kembali menembus atmosfer dalam sudut curam dan melaju cepat ke sasaran.

Baca Juga:  Teknologi Drone Tempur Sebagai Strategi Perang Modern. Mari Bongkar Rahasianya…

Dilansir dari science.howstuffworks, rudal balistik bergerak tanpa kendali aktif, hanya dipandu oleh hukum fisika. Saat kembali ke atmosfer, muatan di dalamnya yang bisa berupa bahan peledak konvensional, senjata kimia, biologis, atau nuklir akan meluncur menuju sasaran dengan kecepatan mematikan.

Berbeda dari rudal balistik, rudal jelajah tetap aktif sepanjang perjalanannya. Rudal jenis ini menggunakan tenaga dorong roket atau mesin jet untuk terbang dalam lintasan yang relatif datar dan rendah, mendekati garis lurus. Rudal jelajah biasa ditembakkan dari kapal perang atau peluncur darat dan lebih mudah diarahkan karena dikendalikan secara terus-menerus hingga mencapai target.

Rudal balistik pertama kali unjuk gigi dalam Perang Dunia II, ketika Jerman meluncurkan V-2 untuk menyerang London. Senjata ini melampaui kemampuan pertahanan udara Inggris yang saat itu terbang terlalu tinggi dan terlalu cepat untuk dihentikan.

Baca Juga:  Maling Virtual Makin Sadis. Tidak Mau Uang Anda di Rekening Tiba-tiba Ludes? Inilah Langkahnya…

Pasca Perang Dunia II, Amerika Serikat bergerak cepat mengembangkan sistem persenjataan strategis berbasis rudal balistik antarbenua (ICBM). Pengembangan ini tak lepas dari peran teknologi dan ilmuwan Jerman yang berhasil ditangkap setelah perang usai. Rudal jenis ini dirancang untuk melintasi benua dan membawa hulu ledak nuklir ke titik sasaran di belahan dunia lain. Tak butuh waktu lama, Uni Soviet (sekarang Rusia) dan Cina ikut membangun armada ICBM mereka sendiri.

Dalam dunia persenjataan modern, rudal balistik dan rudal jelajah memainkan peran berbeda. Rudal jelajah terbang rendah dan stabil, dengan tenaga penggerak aktif sepanjang perjalanan. Lintasannya cenderung mendatar dan bisa dikendalikan hingga akhir. Sementara rudal balistik meluncur tinggi seperti busur besar: terdorong ke luar atmosfer lalu kembali menukik bebas ke sasaran dengan kecepatan luar biasa, tanpa kendali lebih lanjut setelah peluncuran.

Baca Juga:  Penggunaan Jerami Sebagai BBM Bernilai Tinggi. Sebuah Upaya Alternatif BBM Ramah Lingkungan. Beginilah Caranya…

Saat ini, sejumlah negara memiliki ICBM yang aktif beroperasi. Mereka adalah Rusia, Amerika Serikat, Cina, Prancis, India, Korea Utara, dan Inggris yang secara teknis meluncurkan rudalnya dari kapal selam. Jon